Miris sekali. Itulah kesan pertama ketika menginjakkan kaki di ranah ibu kota tercinta ini. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, menampakkan kegagahannya. Beribu roda setiap detik berkelana di sudut jalanan. Wajah-wajah sumringah berbaut kemeja nampak gagah. Semua terlihat sangat berkelas serta intelek. Kota ini penuh dengan berbagai gegap gempitanya kehidupan. Bahkan bisa dikatakan sebagai surganya para shopaholic. Mall-mall berkelas bisa ditemui dengan mudah yang menawarkan segala rupa yang cukup menguras kantong. Itulah kotaku saat ini, tempatku mengenyam ilmu dan bertahan hidup di tengah pertempuran arus kehidupan. Ya, pastilah orang-orang bangga ketika menyaksikan gedung pencakar langit sebagai tempat tumbuhnya perekonomian di Indonesia. Tapi, marilah kita menengok sejenak. Di balik keindahan serta keteraturan kota ini, masih ada saja hal yang membuat hati menjadi miris. Lihatlah, betapa rumah-rumah kardus didirikan guna tempat berlindung dari terik dan hujan. Ketika jembatan sebagai tempat penyebarangan digunakan sebagai tempat meminta belas kasih orang. Bahkan, generasi penerus bangsa yang masih mengusap ingus dengan bajunya nampak sumringah berkeliaran di jalan. Lampu merah, pinggir jalan serta nomaden dari satu bis ke bis yang lainnya, adalah keseharian mereka. Nampak jelas luka dalam setiap mimik wajah yang diperlihatkannya. Sebait lagu dengan alunan musik kaleng bekas lah menjadi media menarik animo. Berharap sekeping receh dimasukkan ke kantong plastik bekas permen dari tangan-tangan yang simpati atau bernaluri.
Apakah kalian melihat semua itu, kawan? Mereka menangis bahkan berteriak memekikkan keadilan. Bukan saatnya mereka turun ke jalan, melainkan menuju ke suatu tempat dimana ilmu disampaikan. Yah, mereka memiliki hak sebagai warga negara untuk mengenyam pendidikan. Namun, lagi-lagi, pendidikan hanya menjadi sebuah impian yang senantiasa dipendam.
Lalu, masihkah kita akan melihat ke atas, ke gedung-gedung pencakar langit itu? Sedangkan masih banyak rumah-rumah kardus di pinggir kali yang berteriak minta dikasihani? Sebuah realita yang cukup menggelitik negeri ini. Mari kita berefleks kepada diri sendiri. Lalu, gerakkan tangan dan nurani demi kedamaian dan kesejahteraan negeri tercinta ini.